|

Terjadi di SMPN Karawang Guru tampar anak ketua LSM



KARAWANG,dinamikajabar.com
Nd akan dilaporkan ke polisi karena Raden marjhan firdaus di tampar guru sekolah SMPN 02. Karawang barat.
Bermula Raden ijin mau kencing dengan bahasa yang di pergunakan Raden bahasa Sunda  "Pak Hayang Kiih"  guru tidak terima marah lalu menampar muka Raden, dengan kejadian ini membuat tidak terima sang ayah kerena anak baru tamat SD dan seharusnya di berikan bahasa yang baik oleh seorang guru bukan di berikan tamparan,ucap Ir Marjani Irchandy SH.orang tua Korban Kamis 1/08/2019.

,"dengan kejadian ini anak mengalami sok serta muka merah akibat bekas tamparan sang guru, dengan kejadian ini orang tua murid akan melakukan tindakan hukum, "

karena ini sudah melanggar hukum,  hari ini Arjun Panggilan akrab Marjani akan mendatangi sekolahan tersebut agar sang guru dapat memberikan keterangan kenapa hanya dengan bahasa Sunda kasar sehingga guru menampar anak muridnya seakan anak tersebut mencuri saja,katanya

Pengamat pendidikan, Rangga Saat berpendapat kekerasan tak dibenarkan dalam dunia pendidikan. Selain ada aturan perundang-undangan yang mengatur hal itu, tak ada teori pendidikan yang membenarkan tindakan tersebut.

"Bisa jadi mereka memberi alasan kekerasan itu untuk pendidikan. Tapi apapun alasannya memukul murid tidak dibenarkan. Di UU Perlindungan Anak tidak boleh," kata Rangga

"Alasan pendidikan ini tak dapat diterima. Karena hampir tak ada teori pendidikan yang mengiyakan kekerasan di pendidikan diperbolekan," sambung Rangga

Sanksi pidana, menurutnya, memang berhasil memberi efek jera kepada guru yang menjadi pelaku kekerasan. Namun, tak menutup kemungkinan kekerasan di lembaga pendidikan dapat kembali terjadi.

"Kalau guru yang bersangkutan mungkin bisa jera. Tapi kan guru lain masih ada yang tidak tahu. Dan ini yang kemungkinan terjadi di daerah lain. Saya pikir, yang penting, bagaimana itu tidak terulang. ungkapnya.


Kg Jimmy Wabup karawang mengatakan harus ada banyak pihak yang terlibat untuk menyuarakan gerakan pendidikan tanpa kekerasan. Pendidikan mesti dijalankan dengan rasa sayang.

Dengan cara itu, sekolah diharapkan menjadi tempat menimba ilmu yang nyaman, menyenangkan, dan aman. Kesadaran ini mesti dimiliki guru maupun murid.

"Sekolah sebagai zona aman, salah satunya itu selain hilangnya bullying antara murid ke murid, dan juga tidak ada kekerasan antara guru kepada murid," ujarnya.

Dadang Aripudin


Komentar Anda

Berita Terkini