|

Jawa Barat Tempat Harmonis Bagi Banyak Suku



BANDUNG, dinamikajabar.com Hal ini disampaikan oleh Kakesbangpol Prov Jawa Barat yang menyatakan bahwa, " Provinsi Jawa Barat mempunyai jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Beragam suku tinggal juga di Jawa Barat dan mereka nyaman tinggal disini sejak dahulu dan tidak pernah terjadi keributan antar suku, 

Hal ini menunjukan warga jabar sangat toleran terhadap suku lain yang tinggal, demikian juga dengan warga dari Papua yang selama ini sangat nyaman tinggal di Jabar dengan udaranya yang sejuk. 

" Dengan adanya kejadian di Malang dan Surabaya sungguh memprihatinkan bagi kita semua dan berharap tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Jawa Barat juga merupakan tempat  tumbuhnya berbagai Ormas  yang diantaranya berbasis kesukuan dan tidak kurang dari 1.300 ormas tumbuh merupakan jumlah terbanyak di Indonesia. Kegiatan Ormas  bergerak berdampingan dan tidak pernah terjadi pertikaian karena faktor kesukuan. Kejadian demo beberapa waktu lalu sangat disesalkan yang diduga ditunggangi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mari kita jaga kondusifitas di Jawa Barat dan kita hadapi bersama para provokator pemecah kesatuan bangsa ini, " tegasnya.

Hal ini dapat kita lihat beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 17/08/19 di lapangan Gazibu, warga Papua mendapat kehormatan duduk bersama dengan Gubernur Jabar, Pangdam III/Sipiwqngi dan Kapolda Jabar  serta para pejabat di lingkungan Propinsi Jawa Barat merayakan HUT RI ke -74  Bangsa Indonesia. Perayaan kali ini pun dirasa sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, warga Bandung merasa bangga kepada masyarakat Papua di Jawa Barat yang sedang melaksanakan pendidikan/belajar bersama merayakan hari kemerdekaan dalam suasana ke khidmatan. 

Pemandangan berbeda di seputaran tempat perbelanjaan BIP hari selasa 27/08/19 karena adanya aksi demo masyarakat papua. Perbedaan ini dikarenakan ulah provokator yang telah meracuni warga Papua dengan tujuan untuk kepentingan pribadi dan sebenarnya bukan berasal dari warga Papua.  

Karena ulah provokator ini mengakibatkan kemacetan parah arus lalulintas di seputaran Jl. Merdeka termasuk arah perkantoran Kodya Bandung sehingga merugikan pengguna jalan lainnya. Banyak warga yang menyesalkan terjadinya hal ini,  seperti yang disampaikan oleh Komunitas pengguna pekerja ojek online, mereka merasa dirugikan karena banyak pemesannya berada di kawasan pusat perbelanjaan sehingga mereka tidak bisa mendapatkan rejeki. 

Warga Jawa Barat sudah buktikan bahwa Rasisme itu tidak ada, kami semua yang berada di Jabar  mencintai warga Papua dengan sepenuh hati. Selain dibuktikan pada saat sepuluh hari  lalu disaat hari Kemerdekaan menari bersama dengan para mahasiswa dan pelajar Papua juga pada saat aksi demo di pusat perbelanjaan kota Bandung, tidak ada masyarakat jawa Barat yang menolak atau marah. Warga tetap memberikan tempat warga Papua untuk menyalurkan pendapatnya asalkan tidak ditunggangi oleh provokator yang sengaja membuat panas suasana.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekum MUI Kota Tasikmalaya, KH. Aminudin Busthomi, M.Ag  yang memiliki santri ratusan juga tidak mempermasalahkan aksi demo warga Papua, karena kami sadar bahwa banyak satri yang  berasal dari papua juga yang belajar agama Islam di beberapa Pesantren di Priangan Timur yang selama ini mereka nyaman saja tidak ada rasisme dalam Islam. Dalam Islam bahwa santri menganggap provokator itu anti kemapanan, semoga saya tidak salah ucap ungkapnya. Kami berharap di jawa barat tetap damai dan juga untuk provokator untuk tidak melanjutkan/ mengulangi kembali perbuatannya. Dan yang paling penting santri tidak mencari provokator tetapi harus ada penanganan yang serius dan sungguh - sungguh sampai tuntas dari pihak berwajib guna mengetahui siapa dalang di balik aksi demo tersebut. (Red)
Komentar Anda

Berita Terkini