|

Ketum IWO, Narsum di Acara Diskusi Publik Yang Diselenggarakan EO-PHORIA Creative Organizing



JAKARTA, dinamikajabar.com - Komunitas Generasi Milenial se-Jabodetabek yang tergabung dalam EO-PHORIA Creative Organizing, di bawah kepemimpinan Ginka Febriyanti Ginting, menyelenggarakan Diskusi Publik di Restaurant Demang Coffee dan Lounge Sarinah Jakarta Pusat, Jumat (12/7/2019), dengan tema “Literasi Media Sebagai Alat Pemersatu Bangsa”.

Dilansir dari media tajukonline.com Seminar Literasi Media Sebagai Alat Pemersatu Bangsa, menghadirkan narasumber diantaranya Staf Ahli Menteri Kominfo RI Bidang Hukum Prof. Dr. Drs. Hendri Subiakto, S.H., M.H., Pemimpin Redaksi Harian Terbit Ali Akbar, Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO) Jodi Yudhono, Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Bambang Santoso dan Aditya L. Djono, Pemimpin Redaksi Suara Pembaharuan serta dipandu dengan Moderator Sandra Insana Sari.

Acara diikuti sejumlah mahasiswa/i dari berbagai Universitas se- Jabodetabek yakni, mahasiswa/i STAI Nurul Iman, STAISA Jakarta, Universitas 17 Agustus, Universitas Alkhairiyah, STA Arsyidiyah Jakut, BSI, UIN Ciputat, Universitas Islam Jakarta, Universitas Nadhlatul ulama, Universitas Ibnu Chaldun, STAI Al-aqidah dan Universitas Esa Unggul Jakarta.

Ginka Febriyanti Ginting selaku Ketua EO-PHORIA Creative Organizing, dalam sambutannya mengatakan, media massa yang dikenal juga dengan istilah pers, telah berkembang dengan pesat, mulai dari jaman penjajahan hingga 73 tahun Indonesia merdeka. Mulai dari radio, televisi, media cetak,
kini media memasuki babak dan tantangan baru dengan meluasnya penggunaan Internet di setiap sendi kehidupan masyarakat.

“Masyarakat disajikan informasi berlimpah, setiap orang bisa menjadi wartawan, bisa
menyebarkan informasi secara mudah, bahkan kadang menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” ucap Ginka.

“Tantangan para insan media untuk bisa menjadi the gatekeeper (penjaga pintu) informasi semakin berat, karena proses edukasi masyarakat dan kontrol sosial, melalui penyampaian informasi secara lugas, transparan, dan dapat diandalkan, kini harus bersaing dengan jutaan informasi yang lalu lalang di dunia maya dibuat bisa oleh siapa saja," sambungnya.

Gadis Cantik yang juga Mahasiswi Universitas Essa Unggul Jakarta ini juga menambahkan, sebelum menjelang Pemilu Serentak 2019, pubilk di Indonesia terpapar oleh jutaan informasi tidak terverifikasi, di mana banyak pihak, atau golongan tertentu yang menggunakan mesin hoaks secara masif.

“Ada kubu yang konsisten memproduksi hoaks untuk mendapatkan dukungan. Tak ayal, warga negara Indonesia terpolarisasi, terkubu-kubu, bahkan banyak persaudaraan retak. Maka dari itu, dengan adanya diskusi ini kita berharap agar media selalu senantiasa bergerak dan menebar informasi yang baik guna persatuan bangsa kita, Indonesia tercinta," kata Ginka.

Masih menurut Ginka, acara ini dilaksanakan dengan mengundang pemimpin media arus utama, yang bertujuan untuk berdiskusi mengenai strategi dan peran serta media dalam membangun bangsa menuju Indonesia Unggul, sebagai tanggapan terhadap fenomena terpolarisasinya warga negara Indonesia pasca pesta demokrasi, dengan menghadirkan delegasi mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas se-Jabodetabek sebagai peserta.

"Diharapkan, dari diskusi publik ini lahirlah pemikiran-pemikiran moderat generasi milenial sebagai input atas pergerakan media massa sebagai alat pemersatu bangsa ke depan,” tutup Ginka Febriyanti Ginting.

Prof. Dr. Drs. Hendri Subiakto, S.H., M.H., Staf Ahli Menteri Kominfo RI Bidang Hukum selaku salah satu narasumber di acara tersebut menyampaikan beberapa hal yang intinya kekhawatiran akan dampak media khususnya media sosial. Perpindahan budaya dari media massa ke media sosial, semakin muda intensitas menonton TV menurun. Menurut riset Daily Mail masyarakat modern bila dipisahkan dari smartphone lebih dari 7 menit sudah merasa tidak nyaman. Smartphone is extension of our life. Kini semua orang bisa menjadi wartawan.

“Menurut dia, siapapun mampu membuat berita. Sehingga masifnya hoax diproduksi. Hoax is part of political gain. Mengapa demikian? Sebab hoax mampu mengelabuhi masyarakat. Literasi konsep liberal,” ungkap Hendri Subiakto.

Staf Ahli Mentri Kominfo RI Bidang Hukum Ini menuturkan, bagaimana masyarakat dapat mengolah berita yang mereka dapatkan dengan ilmu literasi media maupun diamankan oleh hukum seperti undang-undang ITE. Ilmu literasi media atau melek media, baik membedakan berita-berita hoax hingga undang-undang ITE.

Dalam kesempatan ini Prof. Dr. Drs. Hendri Subiakto, S.H., M.H., memberikan Tips mengolah media yaitu:
a. Bersifat Faktual
b. Berasal dari Media mainstream. Kredibilitas sumber dan bersifat objektif. Berpegang pada kode etik jurnalis yang tertuang dalam UU No.40 tahun 1999. Media-media berbadan hukum Indonesia seperti Suara pembaruan, Kompas, Rakyat merdeka. Jelas alamatnya, redakturnya serta penangungjawabnya.
c. Bukan konten bersifat spekulatif. Ciri-ciri Hoax sebagai berikut : Membuat pembaca marah dan khawatir berlebihan dibubuhi kalimat viralkan. Unsur 5W + 1 H lengkap sasaran Hoax.

“Kulit putih berbahasa Inggris beragama Kristen protestan di Amerika Serikat. Mereka mayoritas. Disebari ketakutan bahwa imigran mengambil pekerjaan. Hal ini sebagaimana yang di bicarakan dalam buku: Buku The death of expertise. Wafatnya para Ahli dan Ilmuwan. Trump tidak percaya CNN dan Washington post,” kata Prof. Dr. Drs. Hendri Subiakto, S.H., M.H.

Di kesempatan yang sama Narasumber lainnya Ali Akbar selaku Pemimpin Redaksi Harian Terbit mengatakan, Citizen Jurnalist dibentuk agar tidak berujung kepada hoax.

“Siklus ketakutan Mahasiswa takut dosen, dosen takut rektor, rektor takut menteri, Menteri takut presiden, presiden takut mahasiswa, Media sosial heboh setelah pilpres memacu pada polarisasi masyarakat. Hal demikian hanya demi mencari nama dan viewer,” ucap Ali Akbar.

“Media mainstream bersifat moderat. Dibekali Tes kompetensi bagaimana keberpihakan kita pada rakyat, harus berimbang, independen melewati berbagai proses konfirmasi meski sedikit telat namun terpercaya. Lebih baik menganut Jurnalisme damai atau Peace Jurnalisme. Para politikus diharapkan sikap damai politisi sebagai panutan,” paparnya.

Jodi Yudhono Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) yang hadir juga sebagai narasumber mengatakan, Percayakah kalian pada media massa? Tidak percaya, Sebab media mainstream dipengaruhi kekuatan politik, ekonomi maupun agama.

“Masyarakat bingung sebab bingung akan kebenaran. Persembahan kami awak media memberi dorongan kepada masyarakat, pendidikan literasi lewat workshop berbagi edukasi," ucapnya.

“Literasi adalah membaca dan menulis. Menulis postingan di media sosial memerlukan kecerdasan menulis seperti data maupun fakta. Tidak menyinggung perasaan. Tidak menyebarkan ujaran kebencian,” tandasnya

Bambang Santoso Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka mengatakan, sejauh mana peran pemerintah: Segitiga Pemerintah, Media dan Masyarakat mewujudkan Persatuan bangsa dengan peran media.

“Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Falsafah Pancasila, Konstitusi UUD, semua sudah terbentuk dan terstruktur, namun faktanya ajakan berita hoax yang propokatif mengarah ke perpecahan, kerusuhan, ujaran kebencian terhadap simbol negara. PR mahaberat. Hal ini sejalan dengan perkataan pak Jokowi di Surabaya,” ucap Bambang Santoso.

“Faktanya Bersaing dengan berita yang tersaji maka awak media memerlukan bantuan Mahasiswa agar ambil bagian dengan mensosialisasikan metode literasi media kepada masyarakat.” imbuhnya.

Nara Sumber Aditya L. Djono Pemimpin Redaksi Suara Pembaharuan juga menambahkan, membangun kepercayaan publik untuk mendukung literasi media, sedikit banyak menjebak insan media. Naluri wartawan ingin cepat mendapat informasi terbaru, berita berseliweran di media sosial. Dapur redaksi penurunan kinerja lapangan. Para narasumber kredibel menggaet mantan wartawan.

“Berapa banyak pengguna sepeda motor percaya berita penerapan ganjil-genap. Meski faktanya adalah hoax. Hal yang tidak tertangkap media untuk diklarifikasi maka mau tidak mau ia tumbuh sebagai kebenaran,” kata dia.

“Fakta sebenarnya selalu butuh waktu untuk mengklarifikasi, sayangnya 10 penerima hoax hanya 5 yang mengikuti klarifikasi dari media mainstream, lahirnya media massa abal-abal. Mudahnya membuat news portal dibutuhkan kekritisan pembaca. Apalagi masyarakat Indonesia tidak mau ribet,” ucap Aditya L. Djono.

“Hingga maraknya Citizen Jurnalist Pemimpin Redaksi Suara Pembaharuan memberikan Tips yaitu:
1. Masyarakat dilatih literasi media
2. Penegakan hukum memberi efek jera agar yang sudah melakukan atau ingin melakukan. Untuk mempersempit gerak para produsen hoax,” tutup Pemimpin Redaksi Suara Pembaharuan Aditya L. Djono. (Red)
Komentar Anda

Berita Terkini